Schadenfreude: Mengapa Kita Senang Melihat Orang Lain Susah

“Melihat orang lain menderita itu baik bagi seseorang, membuat orang lain menderita itu lebih baik lagi.” Kutipan Nietzsche yang turut membumbui buku ini dapat kita gunakan untuk membagi manusia ke dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah mereka yang memprotesnya dan menganggap kalimat tersebut kejam, sedangkan yang kedua adalah mereka yang memprotesnya namun diam-diam berterima kasih kepada Nietzsche karena telah mewakili suara hati mereka.

Meski terdengar tabu, perkembangan bahasa kita telah menjadi saksi bisu yang mencatat bahwa dalam hal membahagiakan diri, manusia memang telah sejak lama mengandalkan kegagalan dan keterpurukan orang lain. Schadenfreude hanyalah satu dari banyak istilah yang pernah ada.

Berasal dari bahasa Jerman: schaden berarti kerusakan atau cedera dan freude berarti sukacita atau kenikmatan, schadenfreude bermakna sukacita atas kerusakan. Orang Jepang sendiri memiliki peribahasa: “Kemalangan orang lain terasa seperti madu.” Di Prancis terdapat istilah joie maligne, di Denmark ada skadefryd, di Belanda ada leedvermaak, dan di berbagai kebudayaan terdapat istilah dengan pengertian serupa. Dan meskipun dalam suatu peradaban istilah tersebut belum pernah tercipta, tenang saja, schadenfreude akan tetap mengiringi kehidupan mereka.

Smith menjabarkan lima ciri schadenfreude. Pertama, schadenfreude adalah kenikmatan yang dirasakan penonton atas kemalangan orang lain yang tidak disebabkan oleh kita. Menikmati penderitaan yang kita sebabkan bukanlah schadenfreude, melainkan euforia sadistis. Kedua, emosi ini kita rasakan secara diam-diam. Menunjukkan kegembiraan atas musibah yang menimpa orang lain berpotensi merusak citra diri kita dan kita selalu berusaha menghindari hal itu.

Ketiga, kita sering merasa berhak atas schadenfreude karena menganggap penderitaan orang tersebut adalah ganjaran atas perbuatannya. Keempat, kita cenderung memandang schadenfreude sebagai bentuk kelegaan sebab kegagalan orang lain menenangkan kecemburuan kita atas ketidakmampuan diri sendiri. Terakhir, schadenfreude muncul dari kesalahan kecil seperti melihat seseorang terpeleset, bukan dari tragedi seperti bencana alam.

Lantas, apakah schadenfreude sepenuhnya buruk?

Untungnya Smith tidak mencoba menjadi ibu peri dalam bukunya sendiri. Ia menjelaskan bahwa meskipun memiliki konotasi negatif, schadenfreude merupakan bagian alami dari pengalaman manusia. Ia juga mengajak kita untuk mengakui bahwa merasakan kebahagiaan atas kesengsaraan orang lain adalah hal yang lebih umum daripada yang kita sadari.

Smith pun menekankan bahwa kita sedang hidup di zaman Schadenfreude. Budaya modern kita yang sarat dengan reality show, meme, dan berita sensasional menunjukkan bagaimana kita acapkali terjebak dalam ritual merayakan kegagalan orang lain. Ia menganalisis berbagai acara televisi yang menyajikan momen-momen memalukan kerap memicu rasa senang di antara penonton. Hal ini memperlihatkan bagaimana schadenfreude sudah menjadi bagian dari dinamika sosial kita saat ini.

Smith juga menggali sejarah schadenfreude dalam konteks sosial. Ia mencatat bahwa perasaan ini tidak hanya hadir dalam individu, tetapi juga dalam masyarakat. Kegembiraan bersama atas kegagalan orang lain dapat memperkuat rasa identitas kelompok karena menimbulkan perasaan bahwa mereka memiliki sesuatu yang sama yang akhirnya meningkatkan dukungan dan kerja sama di antara mereka.

Namun, buku ini bukan tentang elaborasi emosi “gelap” semata. Buku ini berisi ajakan untuk merenungkan perasaan ini dalam kehidupan kita sendiri diselingi serangkaian pertanyaan yang terkadang terasa seperti tuduhan yang menuntut pengakuan. Pertanyaan-pertanyaan yang membantu kita memahami bahwa walaupun terasa memalukan, perasaan ini adalah bagian dari sisi manusiawi kita. Di akhir buku, Smith menawarkan aturan main untuk mengelola schadenfreude secara positif. Ia menekankan pentingnya mengenali perasaan ini dan mengakuinya.

Di samping kesan buruknya, schadenfreude membantu kita melihat kekonyolan di dalam hidup dan merayakan kenyataan bahwa semua orang bisa gagal. Namun, refleksi dari Smith juga mengajarkan pentingnya empati terhadap orang lain yang mengalami kegagalan. Persoalan berikutnya, bersediakah kita?

Judul: Schadenfreude: Mengapa Kita Senang Melihat Orang Lain Susah
Penulis: Tiffany Watt Smith
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 202
Tanggal Terbit: 19 September 2022


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *