Sejauh ini saya belum memutuskan apa-apa. Tapi sekiranya hati saya terbuka untuk menjadi seorang ibu dan Tuhan sejalan pula, ini sedikit catatan yang merangkum segala yang berlalu-lalang dalam kepala saya.
Rupanya saya begitu beruntung dilahirkan dari rahim seorang perempuan yang mengajarkan saya tentang hak-hak yang selayaknya kaum perempuan terima. Hak-hak yang selama ini saya anggap biasa saja dan sudah sewajarnya, ternyata belum cukup lumrah dalam dunia kita.
Kid(s), siapa sangka ternyata hidup sangat tidak sederhana, terutama jika kita punya vagina. Organ ini ternyata masih wujudnya saja yang menempel di tubuh kita, tapi segala aspek terkait cara kita menggunakannya telah menjadi urusan seluruh umat manusia.
Bukan itu saja. Kita sudah disediakan ruang “tengah” dan didorong masuk ke dalamnya dengan ketentuan harus merawat diri senantiasa namun jangan terlalu menawan agar tidak dikira berniat menggoda, harus punya pengetahuan juga namun tak boleh sampai mengintimidasi mereka dari jenis kelamin penguasa, harus berani angkat suara namun terlalu lantang berpotensi dicap keras kepala, dan seterusnya, dan seterusnya.
Kid(s), jika kamu terlahir sebagai seorang laki-laki, hari-harimu akan dijejali doktrin tentang kewajiban menghargai pilihan hidup perempuan dan saya tidak akan meminta maaf untuk itu.
Tapi kalau kamu terlahir sebagai seorang perempuan, hidupmu akan diisi dengan kesempatan menentukan jalan hidupmu sendiri dan tidak perlu ada kata terima kasih atas itu.
Saya hanya berharap dunia bisa lebih baik bagi kita, meski jalan menuju ke sana belum begitu bercahaya. Yang jelas, tak ada salahnya berupaya agar hak-hak kita tidak direnggut seenaknya.
Leave a Reply