Pastilah aku ini suplir. Yaaaa, sambil memejamkan mata aku mencoba mengingati tempatku dulu mati. Sudut rumah? Hm… bisa jadi. Sama sekali tak ada gambaran yang jelas selayaknya kelahiran kembali pada umumnya. Aku hanya bisa menerka-nerka dan berharap apa yang kususun dalam kepalaku sekarang adalah apa yang memang terjadi pada kenyataannya.
Dan… kepala(?) Wah, seperti ini ternyata rasanya. Kalau tidak salah dulu aku tak punya anggota tubuh bagian atas. Mungkin karena sudah dipenggal waktu aku kecil atau memang seperti itulah kaumku – Kaum Suplir – makhluk tak berkepala.
“Ingati lagi,” aku mendesak isi kepalaku (tentu saja awalnya aku tak tau itu disebut otak).
Bukankah dulu ibu sering menyiramku? Tanpa kuingat di bagian yang mana. Ada kelebatan di kepalaku. Haaahhhh aku rindu masa di mana aku tak perlu punya kepala! Di tengah kepusinganku, aku simpulkan saja bahwa pastilah setiap hari ibu menyelamatkan diriku yang sering sekarat karena panas sangat ingin mengembalikanku ke asal muasalku: spora yang terbang tak berdaya lalu jatuh ke tanah. Tapi seberapa sering pun aku diselamatkan, toh lama kelamaan aku tua juga. Tak tau umur berapa. Aku belum bisa menghitung waktu itu. Semua terjadi sangat singkat. Intinya saja. Aku mati. Lalu aku ditanyai, ingin memilih hidup sebagai apa.
Loh, aku bisa memilih?
Ternyata itu karena ketabahanku saat hidup sebagai suplir.
Setelah menimbang-nimbang, aku ingin membalas jasa ibu. Dan tentu aku tak ingin jadi suplir lagi. Tidak. Sudah satu kehidupan aku lalui dengan kepanasan.
Apa aku jadi pohon saja? Yang tahan panas, dan bisa balas meneduhi ibu? Atau jadi cicak di rumahnya, yang akan makan semua nyamuk dan lalat di sana? Aku bingung, lantas tertidur. Mungkin karena sebelum mati aku sangat kelelahan. Dan tanpa sempat menyatakan pilihan, aku mendapati diriku di tempat asing.
Sembilan bulan baru aku tau.
Itu perut ibu.
Leave a Reply