Beberapa pertanyaan yang muncul di benak dua orang yang baru mengenal cinta.
Apakah cinta harus dijabarkan ke dalam seribu kata yang mungkin tak dipahami oleh yang jadi tujuan, atau justru harus disingkat dalam beberapa kalimat asal maknanya tersampaikan dengan risiko dicap kurang perjuangan?
Apakah yang disebut cinta itu ketika kita menikmati menariknya percakapan atau malah nyamannya diam ketika habis bahan pembicaraan?
Apakah cinta lebih patut bila berwujud kesabaran dalam penantian atau ketidaksabaran akan pertemuan?
Apakah cinta hadir saat sifat buruknya terlihat menggemaskan atau saat muncul harapan membersamainya ke arah kebaikan?
Apakah cinta itu air di telapak tangan atau telaga yang tak berkehabisan?
Leave a Reply