“The work is going well, but it looks like it might be the end of the world.”
Demikian Elizabeth Kolbert mengutip ucapan salah seorang ilmuwan dalam karya fenomenalnya, The Sixth Extinction. Meski diungkapkan dalam konteks pekerjaan seorang peneliti (yang dari hasil temuannya mendapati petunjuk mengenai kepunahan massal berikutnya), kalimat tersebut juga dapat kita jadikan refleksi dalam menilai hasil karya kita sebagai satu kesatuan umat manusia.
Keberhasilan spesies kita dalam memajukan peradaban memang patut dirayakan. Namun, harga keberhasilan tersebut rupanya setara dengan ancaman kelangsungan kehidupan kita sendiri. Sebagaimana kutipan di atas, pekerjaan kita berlangsung lancar, tetapi ternyata hasil pekerjaan itu pula yang berpotensi mengakhiri segala yang telah kita bangun.
Krisis iklim yang disebut Kolbert sebagai ancaman kelangsungan hidup kita secara singkat dijelaskan olehnya sebagai akibat dari aktivitas kita “menggali sumber energi di bawah tanah lalu mengirimkan emisinya ke atmosfer”. Aktivitas yang selama ini kita lakukan karena satu alasan: pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi memang telah berevolusi menjadi cita-cita utama dalam perekonomian setiap negara. Layaknya adiksi, semua begitu terpacu untuk mendapatkannya. Dengan kompak negara-negara tadi menghitung formula favorit mereka: produk domestik bruto (PDB) lalu membandingkan hasilnya dengan tahun-tahun sebelumnya serta dengan satu sama lain. Harapan mereka sama: PDB mereka dapat lebih besar dari periode sebelumnya dan dari negara lainnya. Puncak dari obsesi tersebutlah yang akhirnya membawa kita melampaui batas yang tidak seharusnya kita langgar.
Ekonomi Donat dan Konsep Stabilitas
Banyak ekonom yang kemudian menyadari ada yang salah dengan cara kita memandang perekonomian selama ini. Mereka pun mulai melancarkan kritik terhadap apa yang dikenal sebagai pandangan ekonomi neoklasik tersebut. Beberapa bahkan mengambil langkah berani dengan menawarkan model baru dalam menggambarkan perekonomian. Satu di antara mereka kemudian melahirkan istilah ekonomi donat.
Ekonomi donat pertama kali diperkenalkan pada tahun 2012 oleh ekonom Inggris, Kate Raworth. Raworth berpendapat bahwa alih-alih menjadikan perekonomian sebagai sesuatu harus bertumbuh tanpa henti, perekonomian lebih tepat dianggap memiliki batas-batas tertentu dengan bentuk seperti “donat”.
Persis seperti donat, model ekonomi Raworth digambarkan dengan batas dalam (lingkaran kecil), batas luar (lingkaran besar), dan bagian di antara keduanya yang disebut “ruang yang aman dan adil untuk umat manusia”.
Batas dalam donat menggambarkan pondasi sosial berupa kebutuhan dasar manusia yang terbagi ke dalam dua belas kategori. Batas luar donat menggambarkan plafon ekologi yang terbagi ke dalam sembilan kategori.
Memasukkan semua orang ke dalam “donat” adalah tujuan utama perekonomian dalam kerangka ini, alih-alih mengejar pertumbuhan yang mengabaikan fakta kesenjangan sosial dan kerusakan lingkungan. Kerangka ini menyadari bahwa ketika seseorang terjatuh dari batas dalam donat, artinya orang tersebut kehilangan kesejahteraannya karena kebutuhan dasarnya gagal terpenuhi. Adapun ketika seseorang bergerak terlalu jauh hingga menembus batas luar donat, dapat disimpulkan orang tersebut telah menimbulkan kerusakan bagi lingkungan.
Gambar 1 – Ekonomi Donat
Sumber: Raworth (2017)
Inti sari dari ide Raworth sederhana namun tetap menarik. Dalam setiap wawancara maupun monolognya, ia selalu menjelaskan bagaimana pertumbuhan ekonomi selalu dianggap sebagai solusi dari setiap masalah. Hal ini membuat kita berharap pertumbuhan itu akan selalu terjadi. Padahal, seperti semua hal yang ada di alam, akan ada masanya pertumbuhan memang harus berhenti. Setelah itu, kata yang relevan bukan lagi growth, tetapi thrive alias bertahan di dalam “donat”.
Konsekuensi lanjutannya adalah konsep stabilitas ekonomi juga perlu ditata ulang. Karena variabel yang paling umum digunakan dalam menilai stabilitas ekonomi adalah tingkat pertumbuhannya, maka ketika kata growth itu diganti, hal-hal yang bersandar kepada kata tersebut juga jadi kehilangan sandarannya. Dengan model baru ini, kita tidak lagi bicara soal stabilitas. Kita bicara soal resiliensi. Diskursus ekonomi akan beralih poros pada seberapa besar kemampuan kita untuk mempertahankan posisi kita dalam batas donat agar tidak jatuh ke bawah pondasi sosial, namun tidak pula melewati plafon ekologi.
Peran Pajak dalam Menjaga Resiliensi Ekonomi
Dalam menjaga resiliensi ekonomi, kita harus menggunakan semua alat yang kita miliki, termasuk pajak. Melalui optimalisasi semua fungsi pajak, negara dapat memastikan semua pihak beraktivitas dalam batas aman.
Pertama, pajak memiliki fungsi budgetair sebagai pengumpul dana untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara. Dana tersebut dapat dialokasikan untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan dasar yang tergolong sembilan pondasi sosial. Orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki akses untuk kebutuhan dasarnya akan dipermudah untuk memenuhinya. Dengan begitu, jumlah masyarakat yang berada di bawah pondasi sosial akan berkurang.
Kedua, pajak memiliki fungsi redistribusi. Pajak dipungut sesuai kemampuan masyarakat sehingga mereka yang lebih mampu membayar pajak lebih besar. Hasil pungutannya kemudian didistribusikan kembali untuk mengurangi kesenjangan antarlapisan masyarakat.
Ketiga, pajak memiliki fungsi regulerend yang dapat membatasi orang-orang untuk tidak menembus plafon ekologi, bahkan menarik masuk mereka yang terlanjur melampauinya. Contoh aplikasinya adalah melalui penerapan pajak karbon untuk sektor-sektor yang menghasilkan emisi dan pajak penjualan barang mewah atas konsumsi barang tertentu. Pemerintah juga dapat mengenakan tarif pajak pertambahan nilai yang lebih tinggi terhadap pupuk kimia yang menyebabkan polusi nitrogen dan fosfor.
Tentu saja kebijakan pajak tidak melulu soal menambah beban pajak. Fungsi regulerend pajak juga dapat ditujukan untuk mendorong perilaku tertentu dari masyarakat. Contohnya dengan memberikan insentif berupa pengurangan pajak bagi masyarakat yang membantu komunitas di bawah pondasi sosial. Kebijakan super tax deduction bagi badan usaha yang menyelenggarakan kegiatan vokasi adalah salah satu contohnya. Pemerintah juga dapat memberikan insentif seperti tarif pajak lebih rendah bagi industri yang menggunakan sumber energi terbarukan agar mereka tetap bertahan di bawah plafon ekologi.
Simpulan
Abad baru membutuhkan cara pandang baru. Ekonomi, seperti semua hal yang ada di alam, pada suatu saat akan mencapai titik yang mengubah orientasinya bukan lagi untuk bertumbuh, melainkan untuk bertahan dan terus bertahan. Titik itu adalah saat ini.
Kita sudah melihat apa yang terjadi ketika semua pihak terobsesi dengan pertumbuhan ekonomi. Model ekonomi donat menawarkan cara pandang baru untuk melihat perekonomian. Bukan growth, melainkan thrive. Bukan stabilitas, melainkan resiliensi.
Dalam mencapai dua hal tersebut, kita harus mengoptimalkan semua alat yang kita miliki, termasuk pajak. Mengoptimalkan semua fungsi pajak dapat membantu kita memastikan semakin banyak pihak yang kita masukkan ke dalam “ruang aman”.
Pada akhirnya, slogan “Menuju tak terbatas dan melampauinya” memang hanya pantas diucapkan oleh Buzz Lightyear, si robot mainan saja. Kita, manusia, sudah selayaknya mengetahui, menerima, dan mematuhi batasan kita. Hanya dengan begitu, kita semua dapat melalui krisis yang sedang kita alami ini.
Leave a Reply