Ramadan, Korupsi, dan Perspektif Kegagalan Pendidikan Indonesia

Memandang bulan Ramadan ibarat bercermin pada wajah pendidikan bangsa kita. Keduanya berbagi satu kesamaan: sama-sama gagal mengentaskan korupsi di Indonesia. Padahal, bertahun-tahun negara dengan populasi muslim terbesar di dunia ini menjalani Ramadan, bertahun-tahun pula berupaya membenahi dunia pendidikan.

Ternyata, penyebab kegagalan kedua hal tersebut juga memiliki kemiripan.
Pertama. Layaknya sebuah tempat belajar, Ramadan berhasil membuat orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya berlomba-lomba mendapatkan nilai tertinggi sehingga di akhir masa belajar mereka layak menyandang gelar “Sang Pemenang”. Namun, seperti yang terjadi dalam dunia pendidikan Indonesia pula, alih-alih terbentuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, para “siswa” justru mencukupkan diri dengan ijazah tanda kelulusan semata. Terbukti, setelah bulan Ramadan akan dengan mudah ditemukan banyak orang yang gagal mempertahankan kualitas ibadah mereka.

Kedua. Orang-orang yang belajar dalam institusi yang disebut Ramadan acapkali
melewatkan substansi pelajaran yang diberikan. Puasa hanya dimaknai dengan
menahan lapar dan dahaga. Padahal hakikat dari ibadah puasa di bulan Ramadan
lebih dari sekadar aspek fisik. Akhirnya, penghuni bulan Ramadan tak ubahnya murid yang menghafal puluhan bab di kelas namun gagal menangkap substansi dari apa yang dipelajari.

Ketiga. Tidak berkembangnya pendidikan karakter. Dengan kata lain, tidak adanya
peningkatan kualitas akhlak selama bulan Ramadan. Di bulan Ramadan hari-hari kita dipenuhi dengan kajian yang diwujudkan dalam bentuk ibadah seperti salat, puasa, dan zakat. Sementara, sisi akhlak kurang mendapat perhatian. Inilah yang
menyebabkan kendati Ramadan media sosial tetap penuh hujatan dan berita aksi
kejahatan.

Bila diringkas, penyebab kegagalan Ramadan dan pendidikan terletak pada kegagalan menangkap substansi dan menanamkan karakter/akhlak. Dalam Islam
sendiri, substansi dan akhlak merupakan aspek penting dalam ibadah. Bahkan
keduanya saling berhubungan.

Tujuan utama setiap ibadah adalah memperbaiki akhlak. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Al-Ankabut: 45, “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” Dalam kitab Wahyu Qalam, Ar-Rafi’i menyebutkan bahwa seandainya ia diminta untuk menghimpun kandungan filsafat Islam, maka dua kata cukup untuk mewakilinya, yaitu keteguhan akhlak.

Keutamaan akhlak didukung oleh Rasulullah sebagaimana diriwayatkan dalam salah satu hadis. “Orang yang menderita bangkrut berat dari umatku adalah orang yang dibangkitkan di hari kemudian dengan membanggakan amal ibadahnya yang banyak, ia datang dengan membawa pahala salatnya yang begitu besar, pahala puasa, pahala zakat, sedekah, amal, dan sebagainya. Akan tetapi kemudian datang pula menyertai orang itu orang yang dulu pernah dicaci maki, pernah dituduh berbuat jahat, orang yang hartanya pernah dimakan olehnya, orang yang pernah ditumpahkan darahnya.” (HR. Muslim No. 2581).

Berkaca dari kegagalan Ramadan (juga dunia pendidikan) sebelumnya, perbaikan akhlak dapat dimulai dalam beberapa langkah. Pertama, menggali substansi masing-masing amalan. Kedua, fokus mengimplementasikan makna alih-alih memenuhi unsur simbolik belaka. Ketiga, memperbaiki sistem yang digunakan bersama.

Ambil contoh ibadah puasa itu sendiri. Dengan menghayati puasa kita dapat
menemukan nilai empati, kejujuran, kesabaran, dan disiplin diri. Hasil akhir puasa
mengajarkan bahwa jika kita diharuskan menahan diri dari hal-hal yang sesungguhnya halal (makan, minum, dan berhubungan dengan suami/istri) selama berpuasa, maka tentu kita juga diharuskan menahan diri dari hal-hal yang haram selama hidup kita2.

Setelah itu, semua pemahaman tadi ditautkan ke dalam sistem yang dibangun untuk mendukung orang-orang mempertahankan akhlak baik yang sudah dipupuk.

Ketika ketiga solusi di atas berhasil dijalankan, Ramadan akan menemukan jalan
cerita yang berbeda. Bulan yang dianggap suci ini tidak akan lagi menjadi sekadar
institusi yang dilalui lalu dilupakan oleh “lulusan”-nya, namun menjadi ruang
bertumbuh yang menginisiasi perbaikan yang berkelanjutan. Hingga akhirnya,
Ramadan akan menjadi tempat bercermin dunia pendidikan dalam mendesain
manusia yang berilmu pengetahuan tanpa meninggalkan nilai Ketuhanan.

Catatan Kaki:
1) Kementerian Agama Republik Indonesia, “Menag: Misi Utama Rasul saw. adalah Akhlak Mulia”, https://kalteng.kemenag.go.id/kanwil/berita/234311/Misi-Rasulullah-SAW-adalahMenyempurnakan-Akhlak- , diakses tanggal 11 April 2023

2) Universitas Padjadjaran, “KH Athian Ali, ‘Beribadah Jangan Kehilangan Substansi’, https://www.unpad.ac.id/2015/06/kh-athian-ali-beribadah-jangan-kehilangan-substansi/, diakses tanggal 11 April 2023

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Esai Ramadan 1444 H Masjid Salahuddin Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak dan meraih juara pertama.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *